NAMA IKA NANTI NUR H

LASKAR 13

PANJI PENGGERAK

PANJI 3

A4/416

AGRONOMI DAN HOLTKULTURA

FAPERTA

ANGKATAN 47

tugas MPKMB 47
cerita inspirasi diri sendiri

Astagfirullah…”

Akoe terhenyak sesaat ketika sadar sebuah dompet lusuh (namun selalu indah bagi akoe) yang telah lebih dari 5 tahun setia bersama akoe tak lagi dalam genggamankoe. fikirkoe mulai mengabsen penduduk dalam dompetku dan langsung terbayang ribetnya ngurus segala tetekbengek untuk kembali miliki KTP dan ATM yang ikut raib. namun Alhamdulillah kemarin akoe telah peroleh keterangan kehilangan dari kepolisian dan semoga selanjutnya urusankoe juga dimudahkan untuk bisa kembali peroleh ATM dan KTP.
koe ga mampu bersungut, karena InsyALLAH koe punyai sejuta kali lipat alasan untuk terus bersyukur.

sebelumnya….
Fikirkoe letih menalar fikiran seorang sahabat yang dulunya selalu setia berbagi suka-duka, namun kini kian jauh dan seolah terus maninggikan tembok antara kami. tembok yang dibangun oleh entah ego jenis apa bercampur rapuh jiwanya yang ga lagi mau dibagi. padahal bagi akoe Sahabat itu bukan orang yang bisa ada saat kita butuh.. namun sahabat adalah orang yang selalu ada dan membutuhkan kita. dan sampai kapanpun, seletih apapun, InsyALLAH dia tetap sahabatkoe.

sesungguhnya…
Hatikoe tengah galau mengaca rasa pada kekasih yang tertutupi ego jiwa kami. sadarkankoe bahwa bersama ga cukup bermodal cinta dan sayang.
akh.. akoe jadi ingin mengenang lagi puisi untuknya..

Aku mencintaimu karena Allah,
yang jadikanmu indah dihatiku.

Aku mencintaimu karena-Nya,
yang buatku yakin kau tulus cintaiku.

Ku ingin selamanya begitu.

Namun jangan pernah terbebani dengan cintaku
karena ketika aku ga lagi ada dihatimu,
maka Dia juga kan bimbing aku
tuk ga lagi mencintamu.

kehilangan sahabat, kehilangan kekasih, kehilangan harta… tragis amat ya nasibkoe!:( namun jangan sampai akoe kehilangan iman n harapan… keep syukur aja dah.. ^_^
so.. “SUDAHKAH ANDA BERSYUKUR HARI INI???”

Anak Buta

Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda.. ^^

Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Yup, dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya. Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.”

Ada Seorang pria yang kebetulan lewat di depan anak kecil itu. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa keping uang receh, lalu memasukkannya ke dalam kaleng anak itu. Sejenak, pria itu memandang dan memperhatikan tulisan yang terpampang pada papan. Seperti sedang memikirkan sesuatu, dahinya mulai bergerak-gerak.

Lalu pria itu meminta papan yang dibawa anak itu, membaliknya, dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil tersenyum, pria itu kemudian mengembalikan papan tersebut, lalu pergi meninggalkannya. Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung supermarket mulai mengalir lebih deras ke dalam kaleng anak itu. Kurang dari satu jam, kaleng anak itu sudah hampir penuh. Sebuah rejeki yang luar biasa bagi anak itu.

Beberapa waktu kemudian pria itu kembali menemui si anak lalu menyapanya. Si anak berterima kasih kepada pria itu, lalu menanyakan apa yang ditulis sang pria di papan miliknya. Pria itu menjawab, “Saya menulis, ‘Hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya.’ Saya hanya ingin mengutarakan betapa beruntungnya orang masih bisa melihat. Saya tidak ingin pengunjung memberikan uangnya hanya sekedar kasihan sama kamu. Saya ingin mereka memberi atas dasar terima kasih karena telah diingatkan untuk selalu bersyukur.”

Pria itu melanjutkan kata-katanya, “Selain untuk menambah penghasilanmu, saya ingin memberi pemahaman bahwa ketika hidup memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa masih ada 1000 alasan untuk tersenyum.”

.

GETARAN SUARA ADZAN
Kebanyakan orang berkata bahwa hidayah itu datangnya tak terduga. Tak dapat diminta namun tak dapat juga ditolak. Tak dapat dipaksakan dan tak dapat dicegah. Uniknya setelah kita mendapatkannya akan terasa sebuah ketentraman yang mendalam di dalam hati dan sanubari. Sehingga kebanyakan dari kita menjadi ketagihan dan ingin terus mendapatkannya. Itulah keistimewaan dari sebuah hidayah.
Begitu juga yang dirasakan oleh seorang anak remaja yang bernama MUCHLAS. Dia adalah seorang anak yang terlahir dalam keadaan ekonomi yang tergolong sangat mampu. Ia memiliki tampang yang rupawan ,bersikap sopan santun dan bersahaja. Selain itu ia juga terlibat dalam segala jenis aktivitas keorganisasian. Muchlas, sang ketua OSIS, begitulah panggilannya. Si pemimpin ikatan remaja di masjid di kawasan perumahan elit serta segudang aktivitas sekolah lainnya yang ia geluti. Namanya begitu terkenal dimata teman-temannya baik di sekolah maupun di luar sekolah. Namun demikian tak pernah sedikitpun ia menunjukkan sikap sombong maupun takabbur atas segala prestasi yang telah ia raih. Oleh karenanya ia sangat disukai dan disanjung oleh teman-temannya dimanapun ia berada.
Latar belakang keluarganya tak bisa diremehkan. Ayahnya, Muchin alatas adalah seorang manager perusahaan mobil terbesar di Indonesia. Sedangkan ibunya, Laksmi adalah seorang designer ternama di kalangan para artis. Nama Muchlas diambil dari nama ayah dan ibunya ,Muchin dan Laksmi ,dengan harapan agar kelak ia dapat menjadi orang yang ikhlas. Di masa remajanya ia menjadi seorang aktivis yang sangat berkompeten dalam segala bidang. Kebanyakan anak-anak remaja itu mendapatkan kebebasan pertama mereka dan pengakuan akan kedewasaan meskipun secara pribadi mereka tak lebih dari anak manja dan sombong yang ingin melakukan kesenangan-kesenangan orang dewasa. Baginya masa-masa remaja adalah masa yang sangat menentukan karena di masa inilah ia mendapatkan suatu pelajaran hidup yang akan mengubah gaya hidup serta pandangan hidupnya dikemudian hari.
Meskipun masih remaja ia tak lantas hidup bersenang-senang serta berfoya-foya dengan kekayaan yang ia miliki. Ia juga tak lupa berbagi dengan para fakir miskin. Kematangan pribadinya memang melampaui usianya. Ia tumbuh menjadi remaja yang memiliki pribadi yang mengagumkan. Ia cerdas suka menolong, dan memilki disiplin diri yang tinggi. Setiap hari ia selalu sibuk dalam urusan keorganisasian. Tak pernah sedikitpun ada waktu luang yang tersisa dalam hidupnya. Bersamaan dengan munculnya sinar mentari dari ufuk timur, bersamaan itu pula hari-hari yang sangat melelahkan dimulai. Sama seperti biasanya. Pukul 06.30 ia telah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dengan berbekal laptop dan flashdish di dalam tas ranselnya, ia turun ke lantai bawah sambil sedikit berlari untuk mengikuti ritual sarapan pagi bersama. “Selamat pagi semua”.”Selamat pagi. Bagaimana tidurmu semalam sayang? Sepertinya belakangan ini kamu tampak sibuk sekali hingga tidur larut malam”. “Ya begitulah. Minggu depan sekolah kami akan mengadakan acara perpisahan serta MGS bagi kelas 3. Jadi aku sedang mempersiapkan proposalnya. Aku sangat berharap mama dan papa bisa meluangkan waktu untuk menghadirinya”. “Ehm….acara perpisahan ya. Sebenarnya kami sangat ingin menghadirinya. Tapi kami tidak bisa berjanji untuk datang. Kamu tahu kan kalau beberapa hari ini kami juga sedang ada kesibukan di luar kota. Tapi kami akan berusaha supaya kami bisa datang kesana”.” Ya, kuharap begitu”.
Bel tanda pelajaran usai telah berbunyi. Saatnya para siswa untuk berkemas pulang ke rumah. Namun lain halnya dengan muchlas. Ia masih tetap berkutat dengan laptop kesayangannya. Dengan ditemani oleh kesunyian dan kesepian, ia dengan tenang mengerjakan tugasnya. Tak terasa senja telah menjelang. Tiba-tiba sebuah suara dering HP mengagetkannya. “Kring……kring….kring…..”.Dengan terpaksa ia mengangkat telpon tersebut. “Halo…..”.Brug…….tut….tut…..tut…..”Allahu Akbar Allahu Akbar”.Sebuah kabar yang sangat memilukan datang kepadanya bersamaan dengan dikumandangkannya suara adzan. Sedikit demi sedikit muncul dalam benaknya memori-memori di masa kecilnya dulu. Saat ia bersama-sama dengan kedua orang tuanya melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Waktu itu ia masih kelas 2 SD. Semua terasa sangat menyenangkan dan menenangkan hati. Seandainya bisa ingin rasanya waktu dapat berhenti saat itu juga.
Dengan hati bergetar dan penuh dengan kecemasan, ia mendengarkan suara adzan hingga selesai. Ia mulai sadar bahwasanya manusia adalah makhluk yang lemah dihadapan Allah. Apapun yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Dan sewaktu-waktu apabila Allah menghendaki, maka kita bisa diambilNya kapan saja. Satu-satunya bekal untuk menghadap kepadaNya hanyalah amal ibadah dan kebaikan selama hidup di dunia ini. Tak terasa olehnya bahwa selama ini ia telah banyak kehilangan waktunya dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada sang Ilaha Rabbi. Hanya karena ia sibuk akan tugas-tugasnya di dunia. Tak jarang sholat lima waktu sering ia tinggalkan. Apalagi membaca ayat-ayat suci Al-Quran, rasanya tak pernah ia melakukannya. Kesadarannya akan kewajibannya sebagai seorang muslim, telah lama menghilang seiring dengan perkembangan zaman.
Dengan langkah gontai, ia melangkahkan kakinya menuju rumah. Dari kejauhan telah terlihat beberapa orang teman ayah dan ibunya telah berkumpul di depan rumahnya. Suara isak tangis menggema memenuhi suasana senja di sore itu. Mengetahui kepulangannya, kedua orang anak kecil itu berlari menuju dia dan segera memeluknya dengan erat. Kini hanya tinggal mereka bertiga yang hidup di rumah mewah itu.
Hari demi hari telah berlalu seiring dengan kembalinya kedua orang tuanya menghadap Sang Ilahi Rabbi. Kehidupan yang dahulu serba mewah dan selalu berkecukupan, kini berubah drastis menjadi serba kekurangan. Hal itu menambah rentetan kesedihan dan kehilangan yang kini dirasakannya. Kendati demikian ia sadar bahwasanya ia tak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Karena ia masih memiliki kewajiban yakni merawat kedua adiknya dan menyekolahkan mereka hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Ia tak ingin adiknya putus sekolah hanya karena masalah biaya. Kini ia telah menjadi tulang punggung keluarga. Dalam usia yang masih muda dan rentan dalam menghadapi permasalahan ia diharuskan mampu mengatasi segala permasalahan yang dihadapi lapang dan sabar. Ia juga harus belajar hidup dalam kesederhanaan, serba kekurangan, terbiasa kelaparan ,dan jauh dari kemudahan dalam urusan kemasyarakatan. Maklum setelah kepergian kedua orang tuanya ,secara tidak langsung berkurang pula harta kekayaan yang bisa memudahkannya dalam urusan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Pada fase remaja inilah kematangan pribadinya semakin terasah. Sehingga semua itu harus dilaluinya dengan kerja keras tanpa kenal lelah dan menyerah serta berserah diri kepada Allah.
Dalam keadaan yang seperti saat ini tiada tempat lain untuknya berserah diri, berlindung serta meminta tolong kecuali kepada sang pencipta alam ini yakni Allah SWT. semata. Ia tak mau menyerah begitu saja pada nasib sial yang menimpanya saat ini. Ia berusaha mencari lowongan pekerjaan dimanapun berada. Pekerjaan apapun asal halal dan barokah pasti akan ia lakukan demi mendapatkan biaya sekolah adiknya. Namun tampaknya kali ini keberuntungan belum berpihak kepadanya. Setiap tempat yang ia datangi ternyata tidak membuahkan hasil karena mereka sedang tidak merekrut karyawan baru. Hampir saja ia merasa putus asa dan akan segera menyerah. Namun tiba-tiba terdengar suara adzan dan dengan segera ia mengambil air wudhu untuk mendirikan sholat. Di dalam shalatnya ia berdoa supaya Allah memberikan ketabahan , kekuatan iman serta kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup yang sangat berat ini.
Allah maha mengetahui segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. Allah sangat paham atas segala kebutuhan setiap makhluknya. Allah juga maha adil dalam memberikan rahmatnya untuk kaumnya. Allah tidak akan memberikan cobaan yang sekiranya makhluk tersebut tidak dapat menghadapinya. Dan Allah akan mengabulkan setiap permohonan yang disampaikan secara sungguh-sungguh oleh makhluknya. Karena Allah memiliki sifat As Sami’ yang artinya Maha Mendengar serta Al Bashir yang artinya Maha Melihat. Maha suci Allah atas segala asma (Asmaul Husna) yang dimilikinya.
Begitu juga dengan Muchlas. Dengan kesabaran dan ketabahan hati serta sikap rela berkorban demi sesama yang dimilikinya, maka Allah pun menunjukkan kepadanya jalan yang lurus yakni jalan yang diridhainya untuk memecahkan segala permasalahan yang dihadapinya. Tanpa diduga ,saat ia berdoa, dari tadi ia diawasi oleh sepasang mata yang memperhatikan sikap dan caranya berdoa kepada Allah SWT. Seorang lelaki paruh baya yang memakai pakaian serba putih dan terlihat sangat religius , berjalan mendekatinya. Kemudian ia menyapa :
Pak Ustadz : “ Assalamualaikum……….”.
Muchlas : ” Waalaikum salam. Maaf ada yang bisa saya bantu?”.
Pak Ustadz : “ Nak kau sungguh hamba Allah yang sangat berbakti. Sepanjang hidupku aku tak pernah bisa menangis saat berdoa. Linangan air matamu membuat hatiku trenyuh dan bergetar. Apa gerangan sesungguhnya yang terjadi?”.
Muchals : “Ehm……..sebenarnya saya bukanlah orang yang seperti bapak bayangkan”.
Pak Ustadz : “Kalau begitu lebih baik kita berkenalan terlebih dahulu. Perkenalkan nama saya Ustad Zainuri. Tadi secara tidak sengaja saya mendengar adik sedang berdoa dan kelihatannya adik sedang memiliki suatu permasalahan yang sangat rumit. Kalau mau ,adik bisa bercerita kepada saya apa permasalahan yang sedang adik hadapi. Siapa tahu saya bisa membantu”.
Muchlas : “ Sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada bapak. Bapak telah mau meluangkan waktu untuk menyapa dan ingin membantu saya. Sebenarnya saya memang sedang bingung dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Saat ini saya hidup sebatang kara dengan kedua orang adik saya. Kedua orang tua kami meninggal 1 tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan yang tragis. Mereka berdua meninggal bersamaan dan meninggalkan kami bertiga sendirian menghadapi dunia yang keras dan kejam ini. Pada awalnya saya sangat kecewa kepada mereka berdua. Karena sebelumnya mereka telah berjanji akan menghadiri sebuah acara di sekolah saya dan mereka juga belum memberikan kasih sayang serta perhatian mereka kepada kami sepenuhnya. Saya tak habis pikir mengapa Allah memanggil mereka di saat kami masih sangat membutuhkan mereka. Saya sangat sedih dan terpukul sekali atas kejadian ini. Saya merasa beban yang saya pikul ini terlalu berat. Saya merasa sudah tak sanggup lagi menjalani hidup yang seperti ini. Pernah terlintas di benak saya untuk segera menyusul ayah dan bunda di akherat sana.”.
Pak Ustadz : “ Astagfirullahhaladiim……….Kau tak boleh berkata seperti itu. Roda pasti berputar. Terkadang ada di atas. Terkadang juga ada di bawah. Hidup di dunia ini tak ada yang kekal abadi. Gunakanlah waktumu sebaik mungkin. Cobaan adalah bentuk dari rasa sayang Allah kepada kita, manusia, sebagai makhluk ciptaannya”.
Muchlas : “ Lalu apa yang harus saya lakukan? Saya bagaikan layangan yang terombang-ambing oleh angin. Tak mampu menegakkan badan dan iman”.
Pak Ustadz : “Bersabarlah nak. Di balik kesusahan itu pasti ada kemudahan. Jadilah engkau hamba yang bertakwa. Temukanlah kebahagiaan di ujung jalan sana. Ia telah menunggumu”.
Muchlas : “ Terima kasih banyak pak. Kata-kata anda bagaikan angin pagi yang menyejukkan. Menghpus sgala gundah hati”.
Pak Ustad : “ Nak kalau kau mau kau bisa datang ke rumahku. Kebetulan bapak memiliki sebuah pondok pesantren di sana. Siapa tahu kamu dapat membantu bapak dalam mengurus kebersihan pondok. Sekalian kamu bisa belajar memperdalam ilmu agama lagi di sana. Ya itupun kalau kamu sedang tidak sibuk”.
Muchlas :“Baiklah pak saya. Sekali lagi terima kasih atas segala nasehat dan petuah yang bapak berikan. Saya menjadi bersemangat lagi untuk menyongsong masa depan “.
Sesampainya di rumah yang hanya berukuran 4×4 m itu, ia memperhatikan kedua adiknya yang sedang tidur pulas. Hari ini hampir saja ia meninggalkan mereka berdua hidup di dunia ini sendirian. Keesokan harinya iapun datang ke rumah pak ustad. Ia melihat banyak sekali para santri yang memiliki nasib seperti ia. Ia merasa memiliki teman seperjuangan dalam menghadapi cobaan yang cukup berat ini. Ia pun menjadi sadar bahwasanya cobaan dan ujian itu haruslah dihadapi, bukannya malah di hindari yang selama ini sering ia pikirkan. Di pondok tersebut banyak ilmu dan manfaat yang ia dapatkan. Ia menjadi lebih kuat dan lebih tegar dalam menghadapi persoalan hidup. Kehidupannya pun kini berangsur-angsur membaik. Karena tanpa sepengetahuannya ternyata pak ustad telah banyak membantunya dalam hal biaya sekolah kedua adiknya.
Tak terasa 9 tahun sudah ia menjadi murid sekaligus pengajar di pondok pesantren yang di asuh oleh pak ustad. Ia bahkan menjadi murid kebanggaan pak ustad dalam hal berqiraah. Ia kini merambah menjadi seorang Qori’ yang sangat terkenal dan sering di undang dalam acara-acara hari besar islam. Masyarakat kini mulai mengenalnya dengan julukan sang Qori’ muchlas. Sesuai dengan arti dari namanya yakni orang yang ikhlas. Kedua orang tuanya pun pasti bangga di akherat sana karena kini ia telah sukses dalam meraih kehidupan di dunia maupun di akherat. Sang pemimpin kini telah menunjukkan tanda-tanda keberadaanya di muka bumi ini. Ia bukanlah lagi seorang remaja yang sedang mencari jati diri namun kini ia telah menjadi seorang manusia dewasa yang telah digembleng dalam hiruk pikuk dunia ini. Kali ini keputusannya untuk mendedikasikan diri dalam dunia islam telah bulat. Ia akan menepati janjinya untuk mengabdi pada sang pemilik jagad raya, Allah SWT. Hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah Janganlah berputus asa dalam menghadapi segala cobaan dan ujian yang diberikan oleh Allah karena dengan cobaan tersebut kita dididik dan digembleng agar menjadi seorang manusia yang memiliki derajat yang lebih tinggi dihadapan Allah SWT. Layaknya seorang siswa yang sedang menjalani tes dan ujian di sekolahnya. Agar ia naik kelas maka ia harus membuktikannya dengan cara lulus dalam ujian yang diberikan oleh sang guru. Selamatkanlah para remaja generasi kita, gembleng kecerdasan emosinya melalui sebanyak mungkin kegiatan yang bermanfaat, dan hindarkan dari liarnya lingkungan . Ajak dialog, untuk merenungkan makna waktu dan kehidupan.

Jadwal kegiatan
Juni 2016
M S S R K J S
« Sep    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Curhatan
Coretan ku
Pengalaman Adalah Guru Yang TERBAIK
Tak kan bertambah pengetahuan dan keingintahuanmu bila kau diam saja di tempat